Terkadang muncul pertanyaan, apa bedanya seni dan pornografi? Apa bedanya kritis dengan ejekan? Apa bedanya kebebasan dengan ketidakbertanggungjawaban? Pembatas antara keduanya sangat tipis, setipis rasionalitas dan emoisonal manusia.
Kasus-kasus karya seni yang memojokkan Islam merupakan buah pikiran manusia yang sangat sinis namun dibungkus dengan kreatif. Kartun-kartun tentang nabi Muhammad Saw di Denmark misalnya, ketika saya melihatnya saya cuma bisa menangkap kesinisan yang luar biasa. Bayangkan, apa yang mereka tahu tentang nabi Muhammad Saw sampai mereka bisa menggambarkannya seperti itu? Saya rasa mereka membaca siapa nabi Saw secuprit dari internet, itu juga dari website yang sinis terhadap Islam. Akibatnya, gambaran di otak mereka adalah representasi dari pengetahuan mereka. Jadinya ya begitu…mungkin mereka harus mulai belajar untuk “Know what they draw, not draw what they know.”
Ada lagi, film Van Gogh dan terakhir Wilder. Setelah saya menonton film tersebut dua kali, dan yang terakhir dengan kepala dingin, hati yang bersih suci, dan senyum manis dikulum…saya cuma bisa ketawa ngebaca isi pikiran Wilder yang asli…KETAKUTAN…yah, mas Wilder ngesake tenan yo? Betapa tidak, di akhir film Wilder mengemukakan fakta yang menggirangkan hati saya. Jumlah umat Islam di Eropa MENINGKAT. WOW. Alhamdulillah. Jelaslah, bahwa peradaban yang buruk memang suatu saat akan tergantikan. Toh, sejarah mengajarkan adanya pergantian dinasti. Persia, Romawi, dll…mirip kayak teori Good Moneynya Grisham ya, “Good money drives out bad money”—Good civilization drives out bad civilization.
Pendeknya gini, pertumbuhan umat Islam yang mencengangkan (ceile bahasanya) di Eropa membuat Wilder merasa ngeri. Jadilah Wilder memfitnah (seperti judul filmnya) umat Islam dengan kurang lebih mengatakan kalau Islam itu kejam, jadi ngapain masuk Islam. Makanya stop Islamisasi. Dari sini, kita tahu kalau Wilder telah bersikap tidak adil. Satu, kita tahu kalau Islam tidak kejam. Sejarah menunjukkan kalau selama ini Islam yang dikejami sama orang lain. Jadi, sekalipun umat Islam melawan, harusnya wajar tapi itu dibilang kejam dan jahat sama bangsa barat. Jadi, kekurangan film ini tidak ada latar belakang, mengapa umat Islam mengangkat senjata, yang ada Cuma Islam kejam. Dua, Wilder lagi-lagi melupakan bangsa lain yang jauh-jauh lebih kejam dibanding umat Islam. Kejahatan perang Amerika, kekejian Israel di Palestina. Harusnya Wilder menuliskan, Stop Westernization by USA or Stop Jewishnism (ada gitu?). Biar adil, tapi emang dasar dia politisi dan bukan journalist, jadi wajar aja kalau dia GAK NGERTI yang namanya cover both side. Wajarlah. Tiga, apa yang ada di film Fitna sangat meragukan kebenarannya, alias dhaif. Btw, Imam yang ngomong itu siapa? Terus foto2 itu diambil dari mana? Sumber yang tak jelas hanya membawa pada keragu-raguan. Wajar, kalau saya sangat meragukan kebenaran yang ada di film itu. Empat, Wilder tidak punya sikap bertoleransi, karena dy merobek Quran. Apa itu sikap seorang yang berjiwa besar? Apa itu yang namanya tepa seliro? Wilder tidak punya sikap mengahargai sama sekali, sehingga wajar, kalau saya juga tidak menghargainya.
Akhir kata, liberalisasi atau kali namanya kebebasan berekspresi diteriakkan dari bangsa barat yang sempat merasa terkungkung ketika Dark Age dan merasa stress ketika ilmu pengetahuan di tekan keberlangsungannya dengan dipenggalnya Galileo (bener ya? yang bilang matahari sentra alam raya?) sehingga mereka bersikap brutal ketika merasa sedikit bebas. Seperti ayam lepas kandang. Jadilah mereka melupakan satu unsur yang patut disandingkan dengan kebebasan. Yaitu tanggung jawab. Kata mereka, Indonesia perlu belajar mengenai kebebasan berekspresi, kata saya mereka perlu belajar menghargai dan bertanggung jawab.