Maraknya iklan politik di media elektronik dan media massa mengindikasikan satu hal: para calon punya banyak uang, atau paling tidak diback up orang-orang yang punya uang. Ini dia bahaya laten yang tersembunyi. Seperti biasa, di Indonesia tiap kali menjelang pemilihan gubernur, presiden, sampai ketua rt selalu ada proses kampanye berupa sale janji-janji. Para calon permak muka di salon supaya kliatan sedikit bersih dan ganteng terus berjanji-janji ria. Menggelontorkan uang hingga miliaran untuk membuat image. Dan selanjutnya setelah terpilih, praktek bales budi dijalankan.
Inikan yang bahaya. Ketika dalam proses kampanye, para calon jelas nyari sponsor. Setelah dapet, sponsor jelas mendanai para calon. Gratis? Enggak. Liat aja hubungan bales budi ala SBY-Bakrie. Benalu bangetkan?
Saya jadi kepikiran kalau dalam proses kampanye, trendnya musti berubah. Ga perlu lah naro iklan di tv. Mungkin, harusnya ada limit besaran dana kampanye. Dua, ada laporan dana kampanye tersebut berasal dari mana. Ketiga, kampanye wajib memfloorkan yang namanya visi-misi secara rigid. memberi tahu masyarakat permasalahan yang dihadapi dan langkah penyelesaian. Intinya, tiap calon wajib memberikan isu yang dia bawa dalam kampanye. Isu itu bukan “Kalimantan Timur Wajib Berubah”…lha, berubah jadi apa?
Yah, saya gerah ngeliat iklan politik. Geli, karena: satu, iklan politik salelu nampilin muka-muka calon pengerat uang rakyat. Dua, mereka selalu muji-muji diri sendiri. Tiga, mereka ngobral janji. Ga tau pa ya kalo kita ga boleh sembarangann ucap janji?
Ini sinis memang, tapi melihat banyaknya protes di JaBar, Bekasi termasuk menganai PilGUb JaBar yang lagi-lagi isinya stop politik uang dan ditemukannya beberapa kecurangan-kecurangan seperti di Indramayu…saya merasa semakin gerah dengan proses ini. Karena rasanya kita ga belajar yang namanya demokrasi sebagai proses yang jujur dan membangun, tapi demokrasi sebagai proses lips services atau jasa kecantikan para calon pejabat.
Protes jalan terus, didenger po? Enggak…kan cuma ditampung…terus dibuang. hehehehe
Ilpil tho?