Seorang teman bertanya, “Apakah ilalang harus dipaksa tumbuh tinggi?”
Sebelum menjawabnya aku menatap sekeliling, memperhatikan ilalang-ilalang liar dalam kebun rumahku. Semuanya, kebanyakan, berukuran tak lebih tinggi dari dengkulku. Ilalang-ilalang itu pendek-pendek, dan dalam ilmu Biologi juga telah disebutkan kalau ilalang termasuk rumput-rumputan..
Setelah mantap dengan jawabanku, aku tak mau terlihat bodoh di hadapannya, dan setelah yakin kalau itu bukan pertanyaan jebakan maka aku mengatakan seperti yang ada di buku Biologi.
Temanku itu merasa tidak puas. Ia menanyakan kembali pertanyaannya, “Apakah ilalang harus dipaksa tumbuh tinggi??”
“Tidak…“jawabku cepat sedikit ragu
Temanku tampak sedikit puas, ia tersenyum sambil memainkan rambutnya. ”Apakah kepompong harus dipaksa melahirkan kupu-kupu yang cantik?”
Pertanyaan jebakan lagi kupikir. Semua orang tahu, sejak SD pun kita sudah diberi tahu oleh bapak/ibu guru kalau kupu-kupu memiliki fase-fase pertumbuhan yang disebut dengan metamorfosis. Telur-ulat-kepompong-dan barulah kupu-kupu.Jadi apakah ini pertanyaan jebakan?
Dengan ilmiah aku menjelaskan perkembangan kupu-kupu tersebut alam fase-fase sempurnanya, sekali lagi kukatakan kalau aku tak mau terlihat bodoh di hadapannya, dan ia hanya tersenyum.
“Aku sudah tahu. Yang kutanyakan adalah, ‘Apakah kepompong harus dipaksa untuk melahirkan kupu-kupu??’”
“Begitulah“. Entah kenapa aku merasa dipermainkan oleh pertanyaan-pertanyaan bodohnya. Apakah ia mempermainkanku?
“Mengapa kau tanyakan hal-hal yang bodoh seperti itu?” tanyaku cepat sebelum ia sempat membuka mulutnya. Kini giliranku bertanya.
“Apanya yang bodoh?”
“Semua pertanyaanmu!”
“Tak ada yang bodoh, mungkin kamu yang bodoh”
“Apa kamu bilang!!? AKU bodoh? Kamu tuh yang bodoh! Sudah tahu tapi terus bertanya hal-hal yang bodoh. Dasar bodoh!!!”.Aku marah, aku tak suka dibilang bodoh! Apalagi olehnya!!
Temanku itu tampak tenang-tenang saja. Dia malah terenyum dan mengambil cermin bulat dari dalam tasnya. Disodorkannya cermin itu padaku. Kutatap wajahku, alisku, mataku, bibirku, pipiku, hidungku…
Itu wajahku sendiri, kurasa, tapi entah kenapa seperti bukan wajahku saja. Ada banyak kepalsuan. Jari-jariku tidak menyentuh kulit wajahku, tapi bedak. Bedak yang sangat tebal dengan pemerah pipi. Bibirku pun merah, merah lipstick yang tak rata. Alisku rapi karya tukang salon di ujung rumah. Cantik, tapi aku seperti melihat bukan wajahku sendiri.
“Apakah anak-anak harus dipaksa untuk tumbuh dewasa?”
Entahlah, tapi di usiaku yang ke-15 aku merasa begitu tua.
-------------------------------------------wa--------------------------------------------
note: make up..do you think u really need it?