dari jogja kita ubah dunia...

meikha's posts with tag: lepas topeng

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag lepas topeng
Blog EntrySee me?Sep 4, '07 7:57 PM
for everyone

Jogja sukses membuat saya semakin merasa penat. Seakan tidak ada lagi langit biru yang tinggi, cuma genteng dan dinding. Mana sawah? Tak ada! cuma kos-kosan, mobil yang seliweran, bau asap, deru motor, sumpek!

Pingin minggir sedikit, ke sisi lain Jogja yang masih ada hamparan sawahnya. Rumput hijau, dengan langit sebiru batasan cakrawala. Pingin semakin ke pinggir, menikmati rayuan pantai dengan deru dan godaan samuderanya. Barengan sama pasir yang menggelitik di sela-sela jari kaki. Membiarkan angin meniup jilbab hingga melambai-lambai. Seru!

Alam menawarkan yang namanya pembebasan diri dari segala rutinitas yang mengkerdilkan jiwa dan pikiran. Membawa semua kesusahan seiring angin yang berhembus. Membasahi jiwa yang gersang dengan embun diantara dedaunan. Ada tanah yang coklat, daun yang hijau, langit yang biru. Mengapa kita sering merasa jauhnya dengan panorama alam?

Kemarin malam, saya merasa seperti ingin memacu motor saya keluar dari peradaban. Kabur ke kaliurang atau pantai depok. Sendiri. Ngebut. Tanpa helm. Tanpa jaket. Tanpa sarung tangan. Biar dingin beneran menyapa dan angin mampu mengusir semua penat. Sampai dimanapun saya, saya mau langsung berlari. Loncat-loncat kayak orang menang lotre. Terus berteriak dengan sangat kencang. Bye-bye capek. Bush jelek! Hamas-Fatah, ngapain perang sodara? Musuhnyakan israel. Gekacrut! Terus tiduran. Melihat mahligai langit malam bertabur bintang. Melatih kemampuan matematika dengan menghitung berapa banyak bintang di langit dan kemudian terlelap. Biar besok pagi terbangun karena sapaan matahari, bukan dani. Menghirup bau embun, bukan bedak. Mendengar cericit burung, bukan kesibukan berebutan kamar mandi. Terus duduk di atas rumput hijau sambil memperhatikan matahari yang naik ke puncak langit dengan lambat. Memperhatikan bagaimana pagi menyapa setiap orang tanpa kecuali. Dan dengan kecupan hangat sang raja siang, saya akan kembali ke peradaban manusia yang sudah sangat maju. Dengan tangan kanan yang tak pernah lepas dari hp dan buku. Kacamata yang menggantung dihidung. Juga dengan otak yang frekuensinya di stel secara global, manner yang sangat lokal, dan mindset...profit maximization Inilah saya dunia.


Blog EntryI Won’t Stop!Apr 23, '07 8:30 AM
for everyone

Langkah ini tidak akan berhenti

Walau sudah dipanggil ibu

Dan dinding-dinding kehangatan rumah menjulang membatasi gerak,

Langkah ini tidak akan berhenti!

Walau renta tulang ini beranjak dari hangatnya sofa dan pelukan mesra cucu pertama,

Langkah ini tidak akan berhenti!

Biar keriput sudah kulit menempel di badan

Dan tatapan suami terkadang berarti tidak,

Langkah ini tidak akan berhenti

Karena aku perempuan juga manusia

Karena mimpi bisa sama tinggi

Dan harapan tidak akan mudah terkikis,

Langkah ini tidak akan berhenti

Tidak.

 

 

Nb: buat mba iim, yang akhirnya...berhenti.

 


Blog EntryIlalang, Kepompong dan DewasaDec 6, '06 8:02 AM
for everyone

            Seorang teman bertanya, “Apakah ilalang harus dipaksa tumbuh tinggi?”

Sebelum menjawabnya aku menatap sekeliling, memperhatikan ilalang-ilalang liar dalam kebun rumahku. Semuanya, kebanyakan, berukuran tak lebih tinggi dari dengkulku. Ilalang-ilalang itu pendek-pendek, dan dalam ilmu Biologi juga telah disebutkan kalau ilalang termasuk rumput-rumputan..

Setelah mantap dengan jawabanku, aku tak mau terlihat bodoh di hadapannya, dan setelah yakin kalau itu bukan pertanyaan jebakan maka aku mengatakan seperti yang ada di buku Biologi.

Temanku itu merasa tidak puas. Ia menanyakan kembali pertanyaannya, “Apakah ilalang harus dipaksa tumbuh tinggi??”

“Tidak…“jawabku cepat sedikit ragu

Temanku tampak sedikit puas, ia tersenyum sambil memainkan rambutnya. ”Apakah kepompong harus dipaksa melahirkan kupu-kupu yang cantik?”

Pertanyaan jebakan lagi kupikir. Semua orang tahu, sejak SD pun kita sudah diberi tahu oleh bapak/ibu guru kalau kupu-kupu memiliki fase-fase pertumbuhan yang disebut  dengan metamorfosis. Telur-ulat-kepompong-dan barulah kupu-kupu.Jadi apakah ini pertanyaan jebakan?

Dengan ilmiah aku menjelaskan perkembangan kupu-kupu tersebut alam fase-fase sempurnanya, sekali lagi kukatakan kalau aku tak mau terlihat bodoh di hadapannya, dan ia hanya tersenyum.

“Aku sudah tahu. Yang kutanyakan adalah, ‘Apakah kepompong harus dipaksa untuk melahirkan kupu-kupu??’”

“Begitulah“. Entah kenapa aku merasa dipermainkan oleh pertanyaan-pertanyaan bodohnya. Apakah ia mempermainkanku?

“Mengapa kau tanyakan hal-hal yang bodoh seperti itu?” tanyaku cepat sebelum ia sempat membuka mulutnya. Kini giliranku bertanya.

“Apanya yang bodoh?”

“Semua pertanyaanmu!”

“Tak ada yang bodoh, mungkin kamu yang bodoh”

“Apa kamu bilang!!? AKU bodoh? Kamu tuh yang bodoh! Sudah tahu tapi terus bertanya hal-hal yang bodoh. Dasar bodoh!!!”.Aku marah, aku tak suka dibilang bodoh! Apalagi olehnya!!

Temanku itu tampak tenang-tenang saja. Dia malah terenyum dan mengambil cermin bulat dari dalam tasnya. Disodorkannya cermin itu padaku. Kutatap wajahku, alisku, mataku, bibirku, pipiku, hidungku…

Itu wajahku sendiri, kurasa, tapi entah kenapa seperti bukan wajahku saja. Ada banyak kepalsuan. Jari-jariku tidak menyentuh kulit wajahku, tapi bedak. Bedak yang sangat tebal dengan pemerah pipi. Bibirku pun merah, merah lipstick yang tak rata. Alisku rapi karya tukang salon di ujung rumah. Cantik, tapi aku seperti melihat bukan wajahku sendiri.

“Apakah anak-anak harus dipaksa untuk tumbuh dewasa?”

Entahlah, tapi di usiaku yang ke-15 aku merasa begitu tua.

 

-------------------------------------------wa--------------------------------------------

note: make up..do you think u really need it?

 


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.