dari jogja kita ubah dunia...

meikha's posts with tag: ceritanya

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag ceritanya
Blog EntryIt s Nothing Wrong…Being NO MoneYJun 28, '08 2:53 AM
for everyone
Adalah alkisah dua gadis manis yang merantau ke Jogja, Kota Pelajar. Berasal dari keluarga pas-pasan…pas mau kuliah di UGM, pas ada duit 10 juta nganggur, maka keduanya terjeblos ke penjara yang bernama UGM. Dua pasang gadis manis ini menjalani hidup dengan pas-pasan juga. Pas mau nonton di 21, pas ada duit 15 ribu nganggur. Maka sebab itu, cerita ini akan bercerita mengenai kisah pengencangan ikat pinggang di kontrakan biru, tempat dua gadis ini bernaung.

Pada akhir-akhir bulan Juni yang gersang, panas matahari memanggang…namun kisah ini terjaid pada malam hari jam setengah sembilan malam. Dua anak manis ini membuka dompet masing-masing. Nampak terselip lima ratusan di dompet seorang gadis bernama QQ, dan duit 1rb di dompet seorang lagi yang bernama Meikha. Dengan wajah beringas, QQ menatap Meikha, pun sebaliknya. Akhirnya keduanya berteriak…”Aaaaah…ga da duit, belon makan! Laper!!!”

Hampir jam sembilan malam, namun dua gadis ini sangat kelaparan. Tapi tag ada uang! Keduanya teringat-ingat, tadi siang makan di Ninit….tapi dibayarin. Sedangkan hari yang lalu juga dibayarin. Aduh. Gimana ni? “Duit!!!” jerit Meikha. Berusaha memanggil sahabat lamanya.

Tar, Meng, gw cari duit dulu di selipan tas.” Dengan sigap dan trenggginas QQ berlari masuk ke kamarnya. Sesaat terdengar bunyi benda-benda berterbangan. Nampak QQ menggunakan ajian sapu bersih demi mencari sisa-sisa receh yang mungkin terselip di antara rak buku dan lemari, atau di kolong kasur. Who know? Heaven knows…

Sedang Meikha? Sebagai orang yang masih dalam tahap penyembuhan dari batuk, radang, dan demam…dy akan selalu nampak kelaperan. Dengan tertatih-tatih dy menyerat tubuhnya ke kamar sebelah…”Wahay Dani, ada duit serebuan nganggur ga?”

Dengan santay juragan Dani mengeluarkan uang dua rebu, dan berkata, “Ni, meng pake aja. Ga dipake duitnya.” Sip, dengan ini kekumpul duarebuliaratus.

Meng, gua nemu dua rebu.” Itu suara QQ. Total uang kini empatrebulimaratus. Belon cukup buat makan di FoodFest. Pencarian akan terus berlanjut.

Sebab itu, nona Meikha yang manis dan baik hati kembali masuk ke kamarnya. Merogoh kantung jaketnya. Membongkar tas-tasnya. Membuka kopernya. Menyelinap di kolong meja belajarnya, termasuk berusaha menggoyang celengan umrohnya. Karena tidak menemukan uang, dengan hilang akal Meikha mengambil pisau dan siap membedah celengan umroh. Nampak gelap mata. Dani yang melihat itu menjerit dan segera melenting dan menangkap Meikha…”Ya Allah ukhty, saNbar (untung ga disembur ma Dani). Katanya mau umroh, ko celengan dah mao dijebol.”

Sedang QQ, dengan wajah kelaperannya, nampak sekali dy tidak mendukung Dani. Jelas QQ ingin sekali celengan ini jebol. Pertumpahan darah antara Dani, QQ dan Meikha bersama sang celengan hampir saja pecah, syukurlah Allah Maha Penyanyang dan Pengasih…mendadak Meikha ingat pernah nyimpen duit 2rebu di saku rok hitam-abu-abunya. Dengan cekatan dy merogoh, dan Alhamdulillah. Total uang kini 6rebulimaratus. Masi kurang.

Mata mulai jelalatan, dan akhirnya nemu duit 500 ama kerupuk. Yah, kayaknya segini doank deh. Alhamdulillah si, bisa nyewa komik Natane nomor 9-11, ama beli nasi kucing 2, sate usus 2, ama kerupuk satu lagi…sisa duit 1rebu…masuk ke celengan umroh. Alhamdulillah…!


Hikmah dari cerita ini: Syukuri uang yang Anda punya hari ini. Jangan dibuang-buang. Soalnya kalo lagi ga punya uang bisa bener2 ga punya uang. Dan bayangkan apalagi mereka yang sungguh fakir miskin…pasti bingung sekali ga punya uang ya. Makanya, jangan pelit juga. ok?

Semangad!

-ceritasangadpendek6


Note: dalam cerita ini tokoh bernama Meikha Azzani memiliki nama panggilan, Komeng. Hanya nama samara gitu. Oia, nasi kucingnya cuma bisa lima suap…dikkkit banggeeettttt T_T.


Blog EntryApelMay 19, '08 9:18 PM
for everyone

Adelia, adalah adikku. Aku, kakaknya adalah bujang tanggung yang sedang berjuang dalam kehidupan. Berjuang untuk tetap eksis di bumi dengan sekolah di sma pas-pasan yang murah yang kemudian jadi karyawan kontrakan di pabrik-pabrik daerah Jababeka. Yah, cerita kayak gini ini di kampungku adalah common story. Rasanya tiap orang bernasib sama, seakan memang…cap nasib susah sudah selalu di tangan kami, manusia-manusia yang lahir di pinggiran.

Namaku Juanda. Aku bekerja di sebuah pabrik elektronik punyanya orang Jepang. Aku bekerja sehari 12 jam, kadang lebih. Aku bekerja dengan semangat, soalnya…kalau tidak semangat, rasanya ingin mati saja. Bayangkan, aku musti berdiri selama 12 jam di samping ban yang berjalan. Untuk waktu makan saja, susahnya minta ampun, aku musti gantian sama temenku. Belum lagi jam mbakannya juga sedikit, musti cepat. Buat makan aja susah, apalagi sholat, jangan tanya ya.

Kembali ke Adelia. Dia adalah adikku yang berusia 10 tahun. Sangat mungil, sangat kecil, dan sangat menyenangkan. Pipinya memerah tiap kali dia tersenyum, seperti apel. Kadang aku sering menciumnya atau mencubitnya. Dia senang sekali bila pipinya kucium dan akan tersenyum, tapi dia sering kali marah kalau pipinya kutarik. Katanya sakit. Ya, sakit. Kini Adelia sakit, demam berdarah. Maklumlah, dikampung, kami berternak nyamuk.

Dua minggu Adelia di rumah sakit. terbaring lemah. Panasnya tinggi, lalu turun. Adelia bahkan sering mengigau. Dia ingin bertemu bapak-ibu, memiliki sepeda, topi, baju bagus…ah dalam mimpinya dia terus mengigau. Mengigau semua barang yang diinginkannya…termasuk sebuah tempat pensil, dan sebuah apel. Aku sangat kasihan padanya. Apalagi pipinya yang merah kini berubah pucat, dan tidak lagi mengembang bulat. Tapi hari ini, Adelia sudah bisa keluar dari rumah sakit. dengan ceria dia berjalan di lorong-lorong rumah sakit, tubuhnya masih nampak lemah, memang. Pipinya juga belum memerah, tapi pasti, dia akan segera pulih.

“Ka, abis ini beli apel ya. yang besar. Apel merah yang sangat besar.”

“Ok. Apel Fuji ya? Mau berapa?” tanyaku

“Satu saja, kan besar…jadi ga bakalan cepet abis kalo dimakan.”

“Sip”

Kami berdua mampir ke Naga Dep. Store, membeli sekilo apel fuji. Aku tahu dia hanya memerlukan satu, tapi sebagai kakak, aku ingin dia senang. Memakan sekilo apel. Biar cepat sembuh.

Sesampainya di rumah, Adelia mengambil satu apel yang masih dalam kresek. Dibawanya apel itu ke kamar, dan dia pun tertidur. Mungkin lelah. Lelah dengan smeuanya. Dia baru 10 tahun, tapi harus menyadari bahwa dia tidak punya orang tua. Hidup berdua saja dengan kakaknya yang ditelanjangi system dan tak punya masa depan. Adelia lelah, karena dia tahu, untuk membayar biaya rumah sakitnya, aku harus menjual Supraku yang baru saja lunas. Ya, Adelia tahu, bahwa untuk makan setiap hari akan semakin susah. Semua akan segera naik. Mencekik kantungku, dan membuatku semakin sering berpuasa. Pasti, Adelia paham kalau aku akan semakin sering lembur dan jarang bermain dengannya. Dia sangat tahu itu, bahwa hidup adalah kesulitan di antara pintu-pintu kesempatan yang semakin tertutup. Hidup adalah perjuangan untuk mereka yang semakin tak diberi kesempatan untuk hidup. Adelia, pasti merasa seperti itu. Karena ketika aku melihat wajahnya, ia terlihat sangat lelah, namun damai. Bagi kami yang miskin, tidur memang hiburan yang murah. Melupakan sejenak dari kesusahan…melupakan sejenak dari kesedihan…walau di tiap akhir tidur, di tiap kali aku akan bangun dari mimpi-mimpi…aku, juga mungkin Adelia selalu merasa sedih atau takut. Karena tiap kali terbangun, aku dan Adelia merasa bahwa semua yang nyata terasa sakit, susah, dan menyedihkan.

Rumah kontrakan yang reot, tivi yang jelek, makanan yang tak pasti ada…pasti, lebih baik di dalam mimpi saja dibanding di dunia nyata. Sebab, ketika maghrib aku membangunkan Adelia untuk sholat maghrib…ia sama sekali tak mau membuka matanya. Tubuhnya kaku, dan wajahnya…lelah, namun damai. Sangat damai. Rupanya, dia lebih memilih hidup di alam mimpi. Disana memang lebih menyenangkan.


-ceritasangatpendek4


Blog EntryBeda IBu BElanda dan IBU IndonesiaMay 15, '08 12:05 AM
for everyone
Selama kurang lebih…cukup lamalah saya mulai menetap kembali di Indonesia, saya menyadari ada perbedaan mendasar antara ibu-ibu Belanda dan ibu-ibu Indonesia…perbedaannya adalah:

 Di Candi Prambananan, sewaktu saya sedang jalan-jalan menghabiskan waktu senggang dan uang..ada seorang anak BElanda, cowok, cakep, rambutnya pirang, matanya bagus..berusia kurang lebih 5tahun, Nampak sedang menikmati cookies…lalu tiba-tiba cookiesnya habis dia makan semua, ga dibagi ke saya, pelit banget…tapi bukan itu intinya. Itu bungkus kuenya di kasi ke ibunya, dy bilang gini kira-kira:

“Mum, this bungkus of cookies I kasi mum.”

Ibunya bilang, “Okey darling, bungkus cookies I simpen di tas, tuh I put in the bag. Since thi sini no tempat sampah, jadi sampahnya we bring home terus di home kita put di tempat sampah.”(map saya ga bisa basa belanda selain dank u)

Maka adegan yang bisa diliat adalah seorang anak cakep ngasi bungkus kuenya ke ibunya, dan ibunya kemudian menyimpannya di kantong samping tas ibunya. Keren sekali. Kata-kata dilarnag buang sampah di sembarang tempat sangat tertanam dalam sanubari mereka. Wow.

Sedangkan di suatu siang yang sangat terik, dalam bus Kobutri yang mirip kaleng kerupuk…saya duduk sambil kepanasan. Saat sedang menikmati asap rokok, bau badan, pengamen dan Kobutri yang jalan pelan-pelan…saya memperhatikan seorang anak jawa, item keling, manis dengan tahi lalat di dagu sedang makan arem-arem. Kayaknya enak…dan saya sednag puasa…

Tiba-tiba…

“Bu’e, iki sampah e tak buang neng di?”

Ibu jawa yang juga nampak manis itu tanpa berkata-kata langsung mengambil bungkus arem-arem itu dan membuangnya di luar jendela…parah?

Rasanya enggak…kan tu ibu-ibu ama anaknya udah paham…hingga ke dalam sanubarinya…kalau Indonesia negara sampah, jadi bener dy…buang sampah pada tempatnya…

 Hahahahahahahhaha. Sinis banged ya? Berubah donk! -me-

 -ceritapendekbanget4


Blog EntryYang Seperti MamaApr 29, '08 8:53 AM
for everyone
Dia anak tetanggaku. Usianya baru tiga tahun. Sangat pendiam. Tidak bisa ditebak jalan pikirannya…aku mengira dy autis. Tapi kata pembantunya, dy anak normal.

Suatu sore, setelah gerimis, aku sengaja duduk di halaman belakang. Berduaan dengan laptopku, aku berusaha mengejar deadline yang mulai menjerat. Aku sangat focus, penuh konsentrasi, hingga tidak menyadari sosok mungil dengan rambut panjang yang kini sudah duduk di sampingku sambil mengemut jari telunjuknya. Aku menatapnya.

“Shyla masuk dari mana?”

Anak itu diam menatapku. Wajah putihnya menggemaskan, sungguh. Dy hanya kurang perawatan. Kedua orangtuanya bekerja. Esmud.

“Sama mba?” aku menanyakan pembantunya Shyla. Yah, buatku Shyla itu anak pembantunya. Mungkin, malah pembantunya itu yang nyusuin Shyla…maklum, ibu-bapak jaman sekarang sibuk-sibuk.

Tanpa merespon pertanyaanku Shyla masuk ke dalam. Aku bengong. Ini anak kurang ajar juga. Aku dicuekin. Dengan sabar aku mengikutinya, dan mendapatinya duduk di sofa di ruang tengah. Dy menatapku yang kini berdiri di depannya. Dy mengulurukan tangannya. Aku segera meraihnya. Dan ku rasakan…tubuh mungil itu bergetar. Menggigil. Shyla kena demam. Badannya sangat panas. Anak sekecil ini sakit dan tidak ada yang menjaganya. Kemana pembantunya?!

Aku segera menggendong Shyla. Aku berniat membawa Shyla ke rumahnya, namun belum sempat itu kulakukan, ia balas memelukku. Menyusupkan kedua tangannya di leherku dan menaruh kepalanya tepat di bawah daguku. Aku mencium bau matahari dan bau obat yang santer dari tubuhnya…”Mama…”

Shyla mengigau…dy tertidur nyenyak sekali dalam pelukanku. Tubuhnya melekat padaku. Kami bertempelan…dy terlihat sangat nyaman. Mungkin karena ia mencium bau yang seperti mama pada tubuhku. Mungkin…mungkin saja.-me-

 

-ceritasangatpendek3-


Blog EntryCoklat, Keju, dan MintApr 8, '08 10:58 PM
for everyone

Dengan mata berkaca-kaca, dan sebulir air mata yang meleleh di pipi kanannya, ia berkata padaku…”Traktir aku di J-Co ya…”

                Aku tidak berkata apa-apa. Kuanggukan saja maunya. Berpacu bersama Satria hitamku ini, aku juga mencoba menjadi seorang satria, bagi sang putri yang sedang bersedih hati. Batinku pun sedikit bersenandung, ada apa gerangan?

                Sesampainya di J-Co, kupilihkan tempat dekat jendela. Tempat favoritnya. Dia hanya tersenyum dan berkata, “Aku boleh pesen banyak?” Aku bilang iya sembari menatapnya heran yang berlari kecil memesan donat. Pikiranku bertanya, ada apa?

                Kini, dia duduk didepanku. Wajahnya masih nampak sendu. Matanya menatap rindu, pada donat-donat. “Ini coklat, rasanya manis. Untuk semua kebahagiaan. Kalau ini keju, untuk tiap kerja keras. Sedangkan yang ini mint, untuk semua sisi kehidupan yang pedas.” Dia menggigit donat yang coklat, keju, dan mint. Seketika pipinya menggembung ala ikan kembung. Mulutnya mengunyah dengan susah payah, matanya menyipit. Hidungnya pun kembang kempis. Aku takut ia tersedak.

                “Dalam hidup, “ ia masih mengunyah, “…kita musti memakan semuanya sekaligus.” Ia mengunyah tiga donat sekaligus. Dan mulai menangis. Ia terus mengunyah. Sambil menangis. Matanya basah, napasnya naik turun. Ia menangis sambil makan donat. Ia menangis. Dan aku, aku tak tahu apa sebabnya. Tak pernah tahu. Atau tak usah tahu?

               

 


Blog EntryAsli apa Palsu?Jan 9, '08 4:37 AM
for everyone

Asli apa Palsu?

Ada gadis manis duduk sangat manis di samping jendela POD. Wah, manis banget euy. Kulitnya putih mulus, wajahnya jelas cantik memukau, rmabutnya hitam lurus, panjang sepunggung…wah, ni cewe seksi pula. Deeu, pujaan deh. Seneng ngliatinnya. Mana kakinya panjang, tubuhnya ramping…ng, udah ah…jangan dilanjutin. Bikin dosa aja.

Hehehehe

Btw,POD sepi, kemana orang-orang?

"Mazz…" dy memanggil saya…ooouw, "…sendiri? Bole gabung?"

Asyiiik

"Bole, duduk aja." Yeah! Ini dy kebahagiaan lelaki. Ditemani wanita cantik.

"Namine sinten?" duh, neng, manis amat siy…

"Agung."

"Ha?" ni cewe bercanda ya?

"Iya, nama saya Agung."

"???"

"Dion!!!" Rara, si cewe berjilbab, teman sekampus yang solehah berat. Datang ke POD memanggil saya karena memang ada janji sama saya. Gawat. Jangan cari masalah deh ama orang-orang kayak Rara, bisa dirukyah. Maka, saya langsung datang ke Rara dengan sigap, persih ratu manggil budaknya.

"Apaan?"

"Udah kenal ma Agung ya?"

"Ha? Yang mana?"

"Itu." Rara nunjuk si cewe cantik seksi pujaan hati yang sempat duduk di sebelah saya...

"Itu yang namanya Agung?"

"Iya"

"Cewe manis itu?"

Rara mengangguk pasti

"Responden kita soal hermaprodit?"

"Iya" Rara tersenyum mantab. "Dy waria."

Busyet...ternyata...emang cuma cewe berjilbab yang nunjukin integritas asli kewanitaannya. Wow...saya jadi kagum niy ama wanita berjilbab. Mereka asli wanita. Ga palsu. Subhanallah...

 

nb: ayooo...berjilbab syar’i

 

Nama, tempat, dan peristiwa hanya fiksi. Bila kebetulan sama, itu murni ketidaksengajaan. Ampuni dan maafkan saya. Terimakasi. Bye-bye.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.