dari jogja kita ubah dunia...

meikha's posts with tag: bicara

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag bicara
Blog EntryAPA KABAR DUNIA?Jan 22, '07 9:12 AM
for everyone

Angin bertiup semilir, mengantarkan bau gosong bercampur anyir darah. Bau semerbak memuakkan berasal dari reruntuhan gedung yang menimpa daging-daging manusia yang hancur, hitam dan basah oleh darah. Anarki!

Inilah gambaran kenyataan sebuah dunia. Dunia yang termashur hingga ke belahan bumi utara dan selatan. Termashur akan ‘surga dunianya’, keramahan orang-orangnya, kemurah-senyumannya, sifat gotong-royongnya, kekayaan alamnya, ‘zamrud khatulistiwanya’, dan banyak lagi. Namun angin yang berhembus tidak menerbangkan itu semua, angin hanya menerbangkan bau darah yang anyir dari para pembunuh, penipu, pemerkosa, maling…

Dunia itu terkenal sangat kaya, benar-benar kaya hingga hampir tiga setengah abad lamanya menjadi rebutan negri-negri serakah yang miskin. Tanahnya sangat subur bahkan tongkat pun bisa tumbuh bila ditancapakan. Sumber daya alamnya berlimpah, minyak dan batubaranya muncul sendiri ke permukaan tanpa digali. Hutannya lebat dari barat ke timur hingga seperti permadani hijau bila dilihat dari angkasa. Lautnya sangat luas hingga disebut negri maritim. Ikan, karang, bintang laut, dan segala flora dan fauna laut ada di dalamnya. Pokoknya negara itu sangat kaya!Rakyatnya hidup sejahtera, makmur dan sentosa.

Namun ada isu yang mengatakan, kalau itu hanya rekayasa, tipu muslihat, kebohongan, panggung sandiwara, kepalsuan, kepenipuan…

Prahara menerjang!! Isu-isu itu terungkap. Kasus Tanjung Prahara, Surat  Perintah 30 Februari, Tukar Guling tanah Orog…..semuanya dibawa ke Mahakamah Kejujuran dan Kemulian yang dibungkam kertas hijau. Bungkam. Hingga para wong cilik intelektual marah dan protes. Memblokade kekuasaan yang sah. Dan sukses! Keinginan para wong cilik tercapai.

Kekuasaan yang baru didirikan sesuai keinginan para wong cilik walaupun diiringi airmata dan darah.

Tragedi Sewangi, Tragedi Tri Ampuh timbul akibat protes yang semakin meluas karena ternyata kekuasaan yang baru itu hanya sekedar berganti nama, baju dan orang. Hati dan mentalnya tetap sama seperti pemerintahan yang dulu. Busuk dan bau. Lalu darah dan pengorbanan para wong cilik intelektual rupanya sia-sia…darah dan airmata mereka tak berarti! Sebab korupsi dan penipuan semakin menjadi-menjadi, semakin banyak yang kaya, namun lebih banyak yang miskin dan kelaparan. Padahal dunia itu terkenal kaya.

Bom meledak di negeri seberang. Seluruh orang asing curiga pada dunia yang penuh kebohongan itu. Semua menuduh!

Namun disangkal, saat tiba-tiba sebuah bom meledak di dunia itu. Membunuh ratusan orang. Dan semua orang di negri seberang semakin yakin bahwa dunia itu adalah sarang teroris. Sebuah bom meledak lagi, diikuti bom selanjutnya dan selanjutnya dan selanjutnya hingga semakin banyak yang mati dan bau darah.

Diseluruh wilayah dunia itu ada ketidakpuasan. Sebab banyak pemegang amanah yang rakus sehingga bom berikutnya meledak, meladak dan bau darah. Anarki!!

Banyak orang yang hilang. Bau darah semakin sangit. Orang-orang menutup hidungnya di kantor-kantor, sekolah, kampus, di manapun mereka berada.

Banyak orang mati tiba-tiba. Bau darah berkali-kali lipat lebih sangit. Orang-orang memakai masker di supermarket, diskotek,  taman-taman, dan dimanapun mereka berada.

Banyak bom yang meledak, banyak yang diperkosa, banyak yang ditipu, sedikit yang shalat, banyak yang membunuh, banyak yang kelaparan, masjid kosong, banyak yang ke luar negeri, banyak yang shopping di Singapura,  sedikit yang mengaji, banyak yang kelaparan, banyak yang tidak punya rumah, banyak yang menjual anaknya, banyak yang menjual dirinya, banyak yang bohong, sedikit yang bicara benar, banyak yang saling tuduh, banyak yang mabuk, tak ada adzan.Anarki!!!

 

                                                -me-                            

 

Langit hitam tampak suram. Awan gelap mengglayut resah dengan mentari yang hitam kelam. Petir menyambar-nyambar memakan korban. Bencana alam meluapkan kemarahan bumi. Sedang air sungai meluap bersama sampah dan limbahnya. Bau kotoran,  bau mulut dan bau darah. Bercampur menjadi satu menciptakan kebohongan baru. Lalu angin bertiup menerbangkannya. Anarki!

Jauh-sejauh pandangan mata, ada seekor burung putih bertengger di dahan kering dalam hutan gundul dalam dunia itu. Menatap heran fenomena alam yang tampak tak ramah. Di putar-putar kepalanya untuk menyelidiki keanehan itu. Dan kesimpulannya : alam menghukum dunia itu.

“Apa kabar dunia?”, teriaknya ceria mencoba menghibur alam yang tampak semakin gelisah dengan hujan lebatnya.

“Tidak asyiik!” jawab sebuah suara lemah. Sang burung tidak kaget mendengar suara tanpa wujud itu, mungkin sang burung sudah pernah mendengar suara itu sebelumnya, jadi dia meneruskan percakapan itu.

“Apa kabar dunia?”

“Tetap tidak asyiik!!”

Sang burung jadi murung, rupanya suara tanpa wujud itu benar-benar merasa sedang tidak bahagia. Sang burung ingin menghiburnya, tapi ia tak tahu bagaimana.

“Mengapa?”

“Karena banyak hal”

“Kau mau bercerita?

“Tidak!!”

“Mengapa?”

“Karena itu hanya akan membuatku malu…”

“Tak apa!Aku tak akan membuatmu merasa malu. Tak ada yang lebih baik di antara kita dan begitu juga sebaliknya.Kita sama baik dan sama buruk!”

“Aku malu…”

“Ayolah…kau akan merasa lebih baik setelah bercerita padaku!”

Sang burung merayu dan terus merayu. Kata-kata pembesar hati dengan kalima-kalimat penyemangat terlontar dari paruh kecilnya. Sang burung berkata-kata.Kata-kata indah yang menjadi sebuah dongeng indah. Dongeng tentang suatu negeri yang makmur, aman dan sejahtera.Negeri yang…

“Hentikan!!!Kau membuatku semakin sedih!”

“Oh…maaf.Tapi mengapa?”

“Tutuplah sebentar paruhmu dan lihatlah sekitarmu!!”

Sang burung menuruti perintah suara tanpa wujud itu. Ditengak-tengokan kapalanya ke sekeliling. Di tatapnya dengan teliti setiap inchi dan kejadian. Dan ternganga serta terperangahnya sang burung melihat pemandangan di sekelilingnya.Anarki…

Jauh-sejauh pandangan sang burung, ia melihat muda-mudi asyik berpesta tanpa penutup tubuh. Padahal telah diciptakan pakaian-pakaian indah sebagai perhiasan mereka, tapi rupanya mereka lebih suka telanjang. ”Berarti lebih baik aku” pikir sang burung menatap penuh syukur pada bulu-bulu penutup tubuhnya yang indah. Sang burung menatap mereka lagi, ia melihat vodka di tangan kiri dan rokok di tangan kanan. Dan mereka menari mengikuti irama. Malam semakin panjang sedang umur mereka semakin pendek.”Kasihan!”

Jauh-sejauh pandangan sang burung, ia melihat sekawanan intelektual muda lengkap dengan jas, dasi dan hp. Mereka asyik menyerang di fajar hari. Serangan fajar, begitu manusia menyebutnya. Mereka tersenyum, berjabat tangan, saling memeluk dan saling menikam. Mereka saling mengalahkan, saling membunuh sementara mulut mereka bicara keadilan, kesamarataan, dan kebaikan namun gigi dan lidah mereka terus mengunyah hak anak yatim, hak orang miskin ataupun subsidi BBM.Perut mereka memblendung semakin besar. Kekenyangan. ”Memalukan!”

Jauh sangat jauh-sejauh pandangan sang burung, ia melihat sebuah tempat yang sangat gelap dan mengerikan. Di dalamnya banyak pemimpin-pemimpin umat, kaum ulama, pendeta, cendekiawan, fisikawan, dokter, sejarahwan, guru-guru, presiden, mentri Agama, professor, ketua partai, ketua majelis, dan banyak lagi sedang tertawa sambil makan anggur. Tertawa kalau sekarang mereka sudah punya rumah, mobil, perusahaan , vila, pesawat…sementara di ujung sana ada yang sedang berjuang melawan lapar. ”Memuakkan!”

“Cukup!!! Aku tak mau melihat lagi! Aku muak ingin muntah bila melihat kelakuan mereka. Mereka hampir tak ada bedanya dengan binatang. Mereka sungguh sangat hina! Mereka tak pantas disebut manusia sebab manusia jauh lebih mulia dibanding mereka”

“Lalu mereka apa?”

“Mereka itu binatang!!”

“Memangnya kau bukan binatang?”

“Aku memang binatang! Tapi aku jauh lebih baik dari mereka!! Mereka itu adalah binatang yang mengaku-ngaku manusia!!!”

 

 

--------------------------------------me-----------------------------------------

                                                                                   

                                                                                                                                                                                                                                                -mecca.

 

 

 

 

 


Blog EntryKita AbadiDec 4, '06 7:23 PM
for everyone
Sore itu saya mendapat sms yang manis sekali, isinya seperti ini: “Yang fana adalah waktu. Kita abadi: memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga sampai suatu hari kita lupa untuk apa. Tapi yang fana adalah waktu bukan? tanyamu. Kita abadi.”
Sms sore itu adalah petikan dari puisi Sapardi Joko Damono yang saya tidak tahu judulnya apa. Tapi saya suka petikan puisi itu.
     “Yang fana adalah waktu.”
     Keberadaan waktu di bumi sangatlah abstrak. Abstrak tapi juga nyata. Waktu adalah benda yang enggak riil, tapi juga riil. Tidak dapat disentuh tapi ada. Waktu, menjadi sesuatu yang sangat berharga, bahkan mahal. Keberadaanya menjadi wadah keksistensian manusia. Lebih jauh lagi manusialah yang memaknai waktu, sehingga waktu itu ada. Jadi…
     “Kita abadi”
     Waktu boleh pergi, tapi tidak manusia. Senin boleh berganti Selasa, tapi tidak saya, ataupun Anda. Waktu adalah sesuatu yang pasif, karena Senin minggu ini hanya terjadi sekali dalam hidup Anda, karena Senin saat Anda diwisuda hanya terjadi sekali dalam hidup Anda. Sehingga, benarlah bahwa manusialah yang memaknai waktu. Waktu adalah pasif, namun manusia sangatlah aktif dan dinamis, dalam memaknai waktu di setiap langkah hidupnya. Merujuk pada Anis Matta yang mempertanyakan kemampuan manusia dalam memaknai waktu, “:Berapakah luas wilayah ruang dan waktu yang diberikan sejarah kepada setiap lelaki, untuk dimaknai, dihidupkan, lalu diabdikan? Apakah manusia, dalam perhitungan sejarah, memaknai dirinya dengan waktu dan biaya?”
     “Kita abadi!”
     Manusia abadi adalah manusia-manusia yang memiliki daya. Daya adalah kemampuan untuk merubah sesuatu. Dan manusia yang dalam hidupnya mampu memaksimalkan daya yang dimilikinya untuk melakukan sesuatu yang mengubah hidup sekitarnya, mikro maupun makro, baik ataupun buruk. Itu adalah pilihan, tergantung bagaimana manusia tersebut memaknai waktu. Mereka yang sukses memaksimalkan dayanya adalah mereka yang memiliki efek bagi sekitarnya Sebut saja Muhammad saw dan Hitler yang merupakan dua contoh kontras dari manusia yang memiliki daya dan ‘efek samping’. Mereka berdua, tersimpan rapi dalam lembar sejarah kehidupan manusia. Mereka abadi.
    “Kita abadi”
    Menjadi manusia abadi adalah menjadi manusia yang mampu hidup di dalam hati dan pikiran banyak orang. Menghidupkan hati dan pikiran banyak orang tidaklah mudah, setidaknya kita musti melakukan hal yang sangat besar agar tidak hilang begitu saja dilibas gerak waktu yang fana. Karena, “Hanya kepada yang hidup kita dapat menggantungkan harapan. Hanya kehidupan yang dapat memaknai kematian,” ujar Munir suatu ketika dalam hidupnya yang singkat namun benderang.
     Sekali lagi, “Kita abadi.”
    Dalam hati anak-anak kita nanti, kita, orang tua mereka, akan hidup abadi dalam hati mereka, sama seperti kita yang mengabadikan orang tua kita dalam hati kita. Hanya tinggal mau seperti apa kita ketika nanti kita menjadi manusia abadi di dalam hati dan pikiran orang-orang sekitar kita. Apakah yang ketika kita meninggalkan dunia fana ini kita menjadi manusia yang ditertawakan oleh malaikat juga manusia? Ataukah menjadi manusia yang ketika merenggang nyawa ditangisi oleh manusia tapi ditertawakan oleh malaikat? Atau menjadi manusia yang ketika maut menjemput, kita menjadi manusia yang ditangisi oleh manusia juga malaikat? Itu adalah pilihan.
     Tak lupa, sahabat saya, menambahkan pilihan ke empat untuk menjadi manusia abadi, yaitu manusia yang ketika meninggalkan dunia ditertawakan oleh manusia tapi ditangisi oleh malaikat. Yah…sekali lagi, itu adalah pilihan, karena waktu adalah fana, dan kita abadi.
Karena manusia lahir diantar senyum dan mati diantar tangis Wallahuallam.
                            
                                                                                           penggemar_pagi@yahoo.com

 

Blog EntryRASADec 4, '06 7:19 PM
for everyone
“Aa Gym menikah lagi.”
Itu adalah berita yang membuat saya tersenyum miris sekali, karena kata…‘menikah lagi’. Mengingat sosok Aa yang sederhana, bersahaja, tawadhu ternyata juga seorang manusia biasa yang memiliki kelebihan dan kekurangan. Maka saya hanya bingung, takut, juga cemas.
Begini, saya melihat sosok wanita yang begitu ideal dalam diri Teteh, istri Aa. Seorang wanita sholehah, keibuan dan begitu penurut pada suami. Secara fisik, Teteh juga cukup menarik…dengan segala kelebihan yang Teteh miliki, Allah menunjukkan kekuasaan-Nya dalam memberikan buah-buah hikmah pada insan di bumi.

***
Menikah, adalah suatu ikatan yang menyatukan dua insan dan persaudaraan di baliknya. Menikah adalah menyatukan dua keluarga sekaligus memperbanyak saudara dan memperbesar ladang amal. Menikah adalah saat dua hati ditautkan dalam janji sakral yang menuntut komitmen, tanggung jawab, juga keistiqomahan. Menikah adalah saat hati dituntut untuk siap menerima segala konsekuensi, manis ataupun pahit. Menikah merupakan suatu kesanggupan bahwa kita siap menerima pasangan kita disaat terburuknya pada saat dia bangun tidur. Menikah bukan sekedar menyatukan perbedaan, biarkan saja yang berbeda itu, karena berbeda itu indah. Menikah hanyalah suatu universitas jiwa yang mengajarkan kita berbagai macam cara untuk menghargai, memahami dan menyikapi perbedaan. Menikah adalah moment terindah dalam menghabiskan hidup, karena menikah adalah kesempatan bagi kita untuk dapat mengapresiasikan rasa sayang dan rasa cinta kita. Tak boleh ada ragu, tak boleh ada ingkar.
Ketika seseorang mengucapkan kata-kata sakti untuk melamar, maka itu artinya ia telah siap menerima segala konsekuensi dari ucapannya. Berbagai kebebasan yang pada awalnya dimiliki ditukarkan dengan ikatan yang begitu membatasi tapi juga memberikan hikmah kebebasan yang berbeda. Lebih tepatnya, merubah gaya hidup. Yang pada awalnya mencari uang untuk kepentingan sendiri, maka setelah menikah mencari uang untuk anak-istri, dan lain sebagainya. Saat kita mengucapkan kata sakti itu, maka kita telah siap dengan segala resiko yang menghadang, bahkan sisi terburuk pasangan kita. Karena saat kita mengucapkan kata sakti pada orang yang kita sayang, maka pada saat itulah kecondongan hati kita mengarah padanya. Pada saat itulah, orang yang ada dihadapan kita (orang yang akan kita lamar) merupakan seseorang yang paling berharga dalam hidup kita. Dia adalah orang yang mengisi hati kita. Dia adalah orang yang sepenuhnya kita cintai, kita sayangi. Dialah, orang yang kita siap untuk menghabiskan sisa hidup kita.
Sederhana, saat kata itu terlontar dari mulut kita, maka dialah dunia kita.
Dan duniapun berputar. Manusia bergerak dinamis. Segalanya, bergerak dengan sangat manis, juga pahit. Yang dulu cantik berubah tua. Yang dulu romantis bisa berubah jadi sinis. Tapi memang seperti itulah manusia. Dinamikanya memerlukan perhatian dan pengertian yang ekstra. Bila kita sudah memutuskan untuk mencintainya. Maka, katakanlah, “Aku mencintaimu.” Sebagai suatu pengakuan bahwa ‘aku akan selalu menghargaimu’. Bahwa ‘aku akan selalu menjagamu di setiap langkahmu yang labil’. Bahwa ‘aku akan membantumu di tiap perkembanganmu bersama kebaikanmu’. Bahwa ‘aku akan sangat membutuhkanmu disisiku’…ucapkanlah setiap waktu, dan buktikanlah di tiap hela napas. Untuk memperbarui rasa yang mungkin semakin lama semakin usang. Ucapkanlah, dan rasakanlah. Bahwa makna ‘Aku mencintaimu’ sangatlah dalam. Karena hal tersebut adalah sebuah pengakuan atas kerapuhan dan keteguhan jiwa.
Tidakkah itu indah?
Saat getar di hati adalah karena kehadirannya. Saat kerapuhan diri disokong olehnya…tidakkah itu indah?
Ketika kita meyakini diri bahwa dialah, seorang yang akan menghabiskan waktu disisi kita. Menyadari adanya orang pertama yang akan kita lihat disetiap kita bangun tidur di pagi hari…tidakkah itu indah?
Menyeruput kopi buatnnya di tiap sore atau bercanda degannya di setiap lelah, resah dan gelisah yang menggelayut…
Sulitkan untuk setia? Sulitkah untuk menjaga hati? Sulitkah untuk tidak menyakitinya? Sulitkah untuk selalu membuatnya tertawa? Sulitkah untuk menghargai smsnya yang lucu? Sulitkah untuk tidak flirting? Sulitkah untuk menjaga laku? Sekali lagi…sulitkah untuk setia?
Bila sudah ada satu, maka kenapa harus ada dua, tiga atau empat?
Kenapa?

Ini bukanlah sikap sinis saya atas (apapun yang Anda pikirkan). Saya hanya mencoba untuk bersikap romantis yang rasional…entahlah, selalu ada alasan kenapa kita berhenti untuk mencintainya dan mulai untuk mencintai yang lain…atau memilih untuk bertahan dan memelihara kebaikan yang sudah ada dan menyuburkannya dengan cinta dan makna. Semua adalah pilihan.
Tapi, jika saya menjadi Anda, saya akan berusaha untuk selalu memelihara senyumnya. Saya akan mencoba untuk tidak sekalipun menyakitinya. Saya akan berusaha untuk selalu memberikan yang terbaik baginya.
Tapi, saya juga akan mencoba untuk menjadi pribadi yang memahaminya. Mendengar keluhnya dengan senyum terhias. Mengkritiknya dengan opini yang membangun, juga membuka lebar telinga saya atas tiap kritiknya. Saya pun akan menjadi sosok yang membelanya, ketika semua orang menghujatnya. Saya, akan menjadi orang yang akan selalu bersamanya di tiap ia menjalani proses kehidupannya. Saya akan menemaninya, dan berusaha mengerti motif di tiap tindakannya. Mungkin caranya adalah dengan belajar, untuk selalu menatapnya sebagai bagian dari jiwa saya.
Sederhana, itu karena saya (kita, Anda, siapapun) mencintainya.
Sederhana…

***
Aa Gym adalah sosok yang sungguh saya hormati. Sedang Teteh adalah pribadi yang ingin sekali saya tiru. Cara beliau bersikap sebagai seorang muslimah, sebagai seorang ibu…ingin sekali saya seperti beliau . Menghadirkan surga di dalam rumah. Namun, Allah adalah invisible hand yang bekerja dengan cara-Nya sendiri. Ia menghadirkan makna di tiap peristiwa. Ia begitu demokratis dengan memberikan kesempatan bagi tiap manusia dalam menangkap hikmah. Tiap kejadian yang disulam oleh benang takdir-Nya kadang berada dalam lingkup logika, kadang juga jauh dari ruang-ruang nalar. Dan saya yakin, kita semua merupakan pribadi yang pandai dalam menangkap hikmah. Sungguh, tak ada satupun makhluk yang tidak menghendaki hadirnya kebaikan, terutama cinta. Waallahuallam.

01:24/04.12.06
penggemar_pagi@yahoo.com
sedang belajar…untuk paham sesuatu yang begitu sederhana.

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.