Angin bertiup semilir, mengantarkan bau gosong bercampur anyir darah. Bau semerbak memuakkan berasal dari reruntuhan gedung yang menimpa daging-daging manusia yang hancur, hitam dan basah oleh darah. Anarki!
Inilah gambaran kenyataan sebuah dunia. Dunia yang termashur hingga ke belahan bumi utara dan selatan. Termashur akan ‘surga dunianya’, keramahan orang-orangnya, kemurah-senyumannya, sifat gotong-royongnya, kekayaan alamnya, ‘zamrud khatulistiwanya’, dan banyak lagi. Namun angin yang berhembus tidak menerbangkan itu semua, angin hanya menerbangkan bau darah yang anyir dari para pembunuh, penipu, pemerkosa, maling…
Dunia itu terkenal sangat kaya, benar-benar kaya hingga hampir tiga setengah abad lamanya menjadi rebutan negri-negri serakah yang miskin. Tanahnya sangat subur bahkan tongkat pun bisa tumbuh bila ditancapakan. Sumber daya alamnya berlimpah, minyak dan batubaranya muncul sendiri ke permukaan tanpa digali. Hutannya lebat dari barat ke timur hingga seperti permadani hijau bila dilihat dari angkasa. Lautnya sangat luas hingga disebut negri maritim. Ikan, karang, bintang laut, dan segala flora dan fauna laut ada di dalamnya. Pokoknya negara itu sangat kaya!Rakyatnya hidup sejahtera, makmur dan sentosa.
Namun ada isu yang mengatakan, kalau itu hanya rekayasa, tipu muslihat, kebohongan, panggung sandiwara, kepalsuan, kepenipuan…
Prahara menerjang!! Isu-isu itu terungkap. Kasus Tanjung Prahara, Surat Perintah 30 Februari, Tukar Guling tanah Orog…..semuanya dibawa ke Mahakamah Kejujuran dan Kemulian yang dibungkam kertas hijau. Bungkam. Hingga para wong cilik intelektual marah dan protes. Memblokade kekuasaan yang sah. Dan sukses! Keinginan para wong cilik tercapai.
Kekuasaan yang baru didirikan sesuai keinginan para wong cilik walaupun diiringi airmata dan darah.
Tragedi Sewangi, Tragedi Tri Ampuh timbul akibat protes yang semakin meluas karena ternyata kekuasaan yang baru itu hanya sekedar berganti nama, baju dan orang. Hati dan mentalnya tetap sama seperti pemerintahan yang dulu. Busuk dan bau. Lalu darah dan pengorbanan para wong cilik intelektual rupanya sia-sia…darah dan airmata mereka tak berarti! Sebab korupsi dan penipuan semakin menjadi-menjadi, semakin banyak yang kaya, namun lebih banyak yang miskin dan kelaparan. Padahal dunia itu terkenal kaya.
Bom meledak di negeri seberang. Seluruh orang asing curiga pada dunia yang penuh kebohongan itu. Semua menuduh!
Namun disangkal, saat tiba-tiba sebuah bom meledak di dunia itu. Membunuh ratusan orang. Dan semua orang di negri seberang semakin yakin bahwa dunia itu adalah sarang teroris. Sebuah bom meledak lagi, diikuti bom selanjutnya dan selanjutnya dan selanjutnya hingga semakin banyak yang mati dan bau darah.
Diseluruh wilayah dunia itu ada ketidakpuasan. Sebab banyak pemegang amanah yang rakus sehingga bom berikutnya meledak, meladak dan bau darah. Anarki!!
Banyak orang yang hilang. Bau darah semakin sangit. Orang-orang menutup hidungnya di kantor-kantor, sekolah, kampus, di manapun mereka berada.
Banyak orang mati tiba-tiba. Bau darah berkali-kali lipat lebih sangit. Orang-orang memakai masker di supermarket, diskotek, taman-taman, dan dimanapun mereka berada.
Banyak bom yang meledak, banyak yang diperkosa, banyak yang ditipu, sedikit yang shalat, banyak yang membunuh, banyak yang kelaparan, masjid kosong, banyak yang ke luar negeri, banyak yang shopping di Singapura, sedikit yang mengaji, banyak yang kelaparan, banyak yang tidak punya rumah, banyak yang menjual anaknya, banyak yang menjual dirinya, banyak yang bohong, sedikit yang bicara benar, banyak yang saling tuduh, banyak yang mabuk, tak ada adzan.Anarki!!!
-me-
Langit hitam tampak suram. Awan gelap mengglayut resah dengan mentari yang hitam kelam. Petir menyambar-nyambar memakan korban. Bencana alam meluapkan kemarahan bumi. Sedang air sungai meluap bersama sampah dan limbahnya. Bau kotoran, bau mulut dan bau darah. Bercampur menjadi satu menciptakan kebohongan baru. Lalu angin bertiup menerbangkannya. Anarki!
Jauh-sejauh pandangan mata, ada seekor burung putih bertengger di dahan kering dalam hutan gundul dalam dunia itu. Menatap heran fenomena alam yang tampak tak ramah. Di putar-putar kepalanya untuk menyelidiki keanehan itu. Dan kesimpulannya : alam menghukum dunia itu.
“Apa kabar dunia?”, teriaknya ceria mencoba menghibur alam yang tampak semakin gelisah dengan hujan lebatnya.
“Tidak asyiik!” jawab sebuah suara lemah. Sang burung tidak kaget mendengar suara tanpa wujud itu, mungkin sang burung sudah pernah mendengar suara itu sebelumnya, jadi dia meneruskan percakapan itu.
“Apa kabar dunia?”
“Tetap tidak asyiik!!”
Sang burung jadi murung, rupanya suara tanpa wujud itu benar-benar merasa sedang tidak bahagia. Sang burung ingin menghiburnya, tapi ia tak tahu bagaimana.
“Mengapa?”
“Karena banyak hal”
“Kau mau bercerita?
“Tidak!!”
“Mengapa?”
“Karena itu hanya akan membuatku malu…”
“Tak apa!Aku tak akan membuatmu merasa malu. Tak ada yang lebih baik di antara kita dan begitu juga sebaliknya.Kita sama baik dan sama buruk!”
“Aku malu…”
“Ayolah…kau akan merasa lebih baik setelah bercerita padaku!”
Sang burung merayu dan terus merayu. Kata-kata pembesar hati dengan kalima-kalimat penyemangat terlontar dari paruh kecilnya. Sang burung berkata-kata.Kata-kata indah yang menjadi sebuah dongeng indah. Dongeng tentang suatu negeri yang makmur, aman dan sejahtera.Negeri yang…
“Hentikan!!!Kau membuatku semakin sedih!”
“Oh…maaf.Tapi mengapa?”
“Tutuplah sebentar paruhmu dan lihatlah sekitarmu!!”
Sang burung menuruti perintah suara tanpa wujud itu. Ditengak-tengokan kapalanya ke sekeliling. Di tatapnya dengan teliti setiap inchi dan kejadian. Dan ternganga serta terperangahnya sang burung melihat pemandangan di sekelilingnya.Anarki…
Jauh-sejauh pandangan sang burung, ia melihat muda-mudi asyik berpesta tanpa penutup tubuh. Padahal telah diciptakan pakaian-pakaian indah sebagai perhiasan mereka, tapi rupanya mereka lebih suka telanjang. ”Berarti lebih baik aku” pikir sang burung menatap penuh syukur pada bulu-bulu penutup tubuhnya yang indah. Sang burung menatap mereka lagi, ia melihat vodka di tangan kiri dan rokok di tangan kanan. Dan mereka menari mengikuti irama. Malam semakin panjang sedang umur mereka semakin pendek.”Kasihan!”
Jauh-sejauh pandangan sang burung, ia melihat sekawanan intelektual muda lengkap dengan jas, dasi dan hp. Mereka asyik menyerang di fajar hari. Serangan fajar, begitu manusia menyebutnya. Mereka tersenyum, berjabat tangan, saling memeluk dan saling menikam. Mereka saling mengalahkan, saling membunuh sementara mulut mereka bicara keadilan, kesamarataan, dan kebaikan namun gigi dan lidah mereka terus mengunyah hak anak yatim, hak orang miskin ataupun subsidi BBM.Perut mereka memblendung semakin besar. Kekenyangan. ”Memalukan!”
Jauh sangat jauh-sejauh pandangan sang burung, ia melihat sebuah tempat yang sangat gelap dan mengerikan. Di dalamnya banyak pemimpin-pemimpin umat, kaum ulama, pendeta, cendekiawan, fisikawan, dokter, sejarahwan, guru-guru, presiden, mentri Agama, professor, ketua partai, ketua majelis, dan banyak lagi sedang tertawa sambil makan anggur. Tertawa kalau sekarang mereka sudah punya rumah, mobil, perusahaan , vila, pesawat…sementara di ujung sana ada yang sedang berjuang melawan lapar. ”Memuakkan!”
“Cukup!!! Aku tak mau melihat lagi! Aku muak ingin muntah bila melihat kelakuan mereka. Mereka hampir tak ada bedanya dengan binatang. Mereka sungguh sangat hina! Mereka tak pantas disebut manusia sebab manusia jauh lebih mulia dibanding mereka”
“Lalu mereka apa?”
“Mereka itu binatang!!”
“Memangnya kau bukan binatang?”
“Aku memang binatang! Tapi aku jauh lebih baik dari mereka!! Mereka itu adalah binatang yang mengaku-ngaku manusia!!!”
--------------------------------------me-----------------------------------------
-mecca.