Harga minyak dunia melonjak ke rekor puncak di atas 119 dolar AS pada Selasa, akibat melemahnya dolar AS,
kerusuhan di Nigeria dan keraguan OPEC menaikkan produksi minyaknya, kata para pedagang.
Kekhawatiran terhadap pasokan global telah mendorong kontrak minyak yang diperdagangkan di New York meningkat lebih dari 57 dolar AS dalam setahun lalu, memicu kecemasan tingginya harga minyak dapat merugikan
pertumbuhan ekonimi AS yang telah mengalami penurunan tajam.
Kontrak berjangka minyak utama New York, minyak mentah jenis "light sweet" untuk pengiriman Mei, ditutup pada rekor 119,37 dolar AS per barel, naik tajam 1,89 dolar AS dibandingkan dengan penutupan Senin.
Para pembeli dan spekulator telah mendorong harga kontrak ke posisi tertinggi perdagangan harian selama ini pada 119,90 dolar AS pada awal perdagangan.
Harga minyak juga mencapai posisi tertinggi baru di London. Harga minyak mentah jenis "Brent North Sea" untuk pengiriman Juni mencapai rekor 116,75 dolar AS per barrel dalam aktivitas perdagangan harian, sebelum
ditutup pada posisi tertinggi selama ini 115,95 dolar AS, atau naik 1,52 dolar AS dari posisi Senin.
"Untuk saat ini, tidak terlihat sesuatu untuk menghentikan kenaikan harga minyak," kata analis MF Global, Ed Meir.
Para analis mengatakan pertumbuhan ekonomi pesat di China dan India juga menyulut meningkatnya permintaan minyak dan memberikan kontribusi terhadap kenaikan harga minyak global.
Melemahnya dolar AS juga telah mendoring permintaan minyak naik.
Harga minyak internasional yang dikutip dalam dolar AS, menjadikan harga minyak mentah lebih murah bagi para pembeli yang memegang mata uang asing yang nilainya telah melonjak terhadap dolar AS.
"Pasar minyak masih ketat, dengan keraguan OPEC untuk meningkatkan produksinya, menyalahkan para spekulan dan melemahnya dolar untuk mendorong harga naik," kata analis Sucden, Andrey Kryuchenkov.
Kekhawatiran pasokan global menyala setelah grup minyak Inggris-Belanda Royal Dutch Shell melaporkan kehilangan produksi 169.000 barel per hari akibat sabotase terhadap pipa minyaknya di selatan Nigeria.
"Secara umum, kami telah kehilangan produksi 169.000 barel per hari akibat serangan baru-baru ini terhadap saluran pipa minyak kami," kata juru bicara Shell, Precious Okolobo kepada AFP.
Ia mengatakan produksinya berkurang menyusul serangan terhadap saluran pipa minyak untuk terminal ekspor Bonny pada akhir pekan lalu dan kerusakan pada pipa saluran Soku-Buguma dan Buguma-Alakiri pada Senin.
Harga minyak juga naik meski diberitakan bahwa Organisasi Negara-negara Eksportir Minyak (OPEC) berencana menaikkan kapasitas
produksinya lima juta barel per hari hingga 2012, sekretaris jenderal OPEC Abdalla Salem El-Badri mengatakan Selasa.
El-Badri mengatakan OPEC bermaksud meningkatkan kapasitas produksinya sembilan juta barel per hari pada 2020. Produksi minyak mentah OPEC saat ini sekitar 32 juta barel per hari.
Ke-13 negara anggota OPEC memproduksi 40 persen dari minyak dunia, sehingga bersikeras tidak ada kekurangan minyak global, dan menuduh kenaikan harga minyak di pasar karena ulah para spekulan.(Ant/OL-02)
http://www.mediaindonesia.com/
untung saya ga makan minyak goreng