Hidup saya berubah, sejak ia hadir.
Hidup saya lebih berwarna, sejak ia ada.
Hidup saya jadi lebih bersemangat sejak ia sering menelpon saya.
Hidup saya lebih ceria sejak ia bisa mengeja nama panggilan saya. I-Y-E-K. Artinya bulik.
Bulik adalah panggilan saya untuk ponakan saya yang usianya baru satu setengah tahun. Muhammad Dimas Pratama Hafidz Rezeki namanya. Paw-paw panggilannya. Kadang dibanggil mbot, kadang tomi sukipo, kadang juga kipo, kadang master, kadang dede, kadang loli, kadang pam-pam, kadang mancu alias manusia lucu, kadang bobi, kadang dim-dim, kadang…wah, namanya banyak banget. Tapi si kecil pintar itu selalu menengok dan tersenyum tiap kali kita memanggilnya, dengan nama-nama di atas. Dy mengenal dirinya sebagai dede, atau kipo, atau master.
Dimas, adalah ponakan kecil saya yang paling ada di hati. Hanya karena ia sering memaggil saya, i-y-e-k dengan suara cemprengnya di telepon. ”Yek, cuwcuw.” Ucapnya suatu pagi di telepon…n_n
Dimas sangat pintar, dy tahu hidung itu yang mana, dy juga atau harus apa kalau sudah kebelet pipis. Mengambil botol pipis di belakang dan lalu...cuuuurrrr...di mulut botolnyah.
Dimas lucu yang selalu jawab “Bwang-bwang” tiap kali ditanya, “Makan pake apa?”
Dimas cerdas yang sudah bisa berhitung hingga lima.
Dimas yang sudah bisa memegang pulpen dan mulai mencorat-coret.
Dimas yang selalu menunjuk telepon biar bisa ngobrol sama iyek.
Dimas yang suka minum susu ‘uta’ (ultra).
Dimas yang selalu tersenyum tiap kali ayahnya datang dari pulang kerja.
Dimas yang ngerti kalu ibu sama ayah pergi berarti, “Ja (kerja), ” makanya, Dimas ga pernah nangis kalu ditinggal.
Dimas yang selalu merhatiin mbah mi kalu mbah mi lagi sholat.
Dimas yang mau disuruh ngambilin minum buat ato’ (mbah kakung).
Dimas yang suka muter-muter
Dimas yang bertanggung jawab...
Mulailah...pada suatu siang yang begitu panas...saya mengambil segelas air dingin dari kulkas...menaruhnya di samping saya duduk di lantai...”Dimas...” jerit saya begitu ngeliat si kecil datang.
Dimas menghampiri saya dan mulailah aksi kami berdua. Bercanda. Kitik-kitakan. Guling-gulingan. Cubit-cubitan. Pukul-pukulan. Gelendotan. Monyong-monyongan. Dan brak!
Aksi heboh kami berdua membawa musibah. Gelas yang berisi air dingin itu tertabrak oleh Dimas. Airnya tumpah, lantainya basah. Saya santai...tar juga ada yang beresin pikir saya. Namun, sikap santai itu tidak dimiliki Dimas. Saya memperhatikan polahnya yang nampak panik, nampak sibuk. Kepalanya menengok ke kiri-kanan. Seperti mencari sesuatu...dan...ketemu! Dengan segera dia berjalan...mengambil popoknya yang dilipat rapih di atas kursi. Mengambil popok itu dan lalu jongkok di tempat air yang tumpah. Mulailah...ia mengulurkan tangannya dan mengelap lantai dengan popok bersihnya.
Ajaib.
Saya terharu. Anak sekecil itu. Baru berusia 1.5 tahun, namun sudah memiliki tanggung jawab setinggi gunung. Tanggung jawab atas kesalahan sikap. Tanggung jawab yang kadang sering kali dihindari orang-orang dewasa. Mayoritas kita yang dewasa hanya berani menjawab tanpa berani menanggung. Namun Dimas berbeda. Dengan tubuh kecilnya, dengan kemampuan bicaranya yang belum seberapa...ia belum mampu menjawab (ngeles) kenapa ia menumpahkan air...namun ia berani menanggung kesalahannya dengan mengelap tumpahan air itu.
Hebat.
Inikah fitrah?
Harusnya kita yang dah pada tua ini, bisa bersikap penuh tanggung jawab: berani menanggung akibat dari sikap.
Iya tho?
-me-