Selama kurang lebih…cukup lamalah saya mulai menetap kembali di Indonesia, saya menyadari ada perbedaan mendasar antara ibu-ibu Belanda dan ibu-ibu Indonesia…perbedaannya adalah: Di Candi Prambananan, sewaktu saya sedang jalan-jalan menghabiskan waktu senggang dan uang..ada seorang anak BElanda, cowok, cakep, rambutnya pirang, matanya bagus..berusia kurang lebih 5tahun, Nampak sedang menikmati cookies…lalu tiba-tiba cookiesnya habis dia makan semua, ga dibagi ke saya, pelit banget…tapi bukan itu intinya. Itu bungkus kuenya di kasi ke ibunya, dy bilang gini kira-kira:
“Mum, this bungkus of cookies I kasi mum.” Ibunya bilang, “Okey darling, bungkus cookies I simpen di tas, tuh I put in the bag. Since thi sini no tempat sampah, jadi sampahnya we bring home terus di home kita put di tempat sampah.”(map saya ga bisa basa belanda selain dank u)
Maka adegan yang bisa diliat adalah seorang anak cakep ngasi bungkus kuenya ke ibunya, dan ibunya kemudian menyimpannya di kantong samping tas ibunya. Keren sekali. Kata-kata dilarnag buang sampah di sembarang tempat sangat tertanam dalam sanubari mereka. Wow.
Sedangkan di suatu siang yang sangat terik, dalam bus Kobutri yang mirip kaleng kerupuk…saya duduk sambil kepanasan. Saat sedang menikmati asap rokok, bau badan, pengamen dan Kobutri yang jalan pelan-pelan…saya memperhatikan seorang anak jawa, item keling, manis dengan tahi lalat di dagu sedang makan arem-arem. Kayaknya enak…dan saya sednag puasa…
Tiba-tiba…
“Bu’e, iki sampah e tak buang neng di?”
Ibu jawa yang juga nampak manis itu tanpa berkata-kata langsung mengambil bungkus arem-arem itu dan membuangnya di luar jendela…parah?
Rasanya enggak…kan tu ibu-ibu ama anaknya udah paham…hingga ke dalam sanubarinya…kalau Indonesia negara sampah, jadi bener dy…buang sampah pada tempatnya…
Hahahahahahahhaha. Sinis banged ya? Berubah donk! -me-
-ceritapendekbanget4